poem-12

mengapa mengharap permakluman mereka

sedang belum tentu kau dimaklumi-Nya

atas dasar apa kau pinta perhatian mereka

padahal hanya kepada Tuhanmulah segala urusan

mungkinkah bias niatmu?

adakah ikhlas mengalir dalam pembuluh darahmu?

beribu langkahmu hanya menjadi setapak di hadapan Tuhanmu

kumpulan peluh yang menetes darimu hanya berupa buih tak berarti di mata Tuhanmu

dan kau masih meminta dispensasi

dan kau masih mengajukan surat cuti

dan kau masih pertanyakan kompensasi

kemudian berencana pergi dan lari

merasa hanya dirimu seorang yang miliki derita

padahal gerakmu belumlah apa-apa

duhai hati,

kembalilah dari pengembaraanmu mengharap dunia

untuk beralih pada ridha-Nya

-bogor,3 april 2009-

poem-11

Cari namamu dalam kamus cintaku
Maka akan kau temukan dalam setiap halaman buku
Tanya padaku tentang koleksi memori dalam ruang pikirku
Maka akan kuputarkan rekaman kehidupanku saat bersamamu

Masaku denganmu tak berjalan seiring waktu
Senja itu membawamu pergi dari sisiku
Tak ada kendali yang mampu menahanmu
Bahkan tetes air yang jatuh dari mata mereka yang mencintaimu

Datanglah ke kantor pos di tempatmu
Dan tanyalah pada bidadari bermata biru
Adakah kiriman untukmu
Sebuah paket dariku
Berupa doa dan kumpulan rindu
Kutitipkan juga surat pada Tuhanku
Untuk mengizinkanmu menungguku pada sebuah pintu
Kan kubawa serta Ibu kepadamu
Ia yang mencintaimu dan bertahan dalam kesetiaannya padamu

Wahai waktu
Aku tidak memintamu mengembalikanku pada masa itu
Hanya saja
Beri aku kesempatan untuk selalu memenuhi jiwaku dengan keshalehan
Agar aku tak malu bila bertemu cintaku
Agar Ia tak ragu mengumpulkanku bersama cintaku
Dalam surga bertelaga biru

:: Bogor, 23 November 2007 ::

poem-10

Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Tak bisa kuhentikan lajunya saat ia tinggalkan setiap stasiun
Tak dapat pula ku meloncat keluar
Saat decit rodanya beradu dengan rel yang panjang membentang

Dahulu pernah kita tumpangi sebuah kereta
Yang berhenti pada stasiun abu-abu
Penuhi gerbongnya dengan tawa dan sedu sedan
Kadang terpesona oleh gerak dan kata
Kadang tergugu karena keliru
Kita tumpangi kereta itu bersama
Sampai terhenti pada stasiun berikutnya
Dan kita harus berpisah

Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Sejak langkahku memasukinya di stasiun itu
Lalu kehilangan bayangmu
Tapi keretamu pun datang
Kau akan masuk ke dalamnya, bukan?
Kau tak akan terdiam lama di perhentian itu, benar?
Naiklah, Kawan
Dan kita akan bertatap kembali pada akhir segala kereta berhenti

Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Aku, kau, dia, mereka
Kita hanya penumpang
Tak dapat kita hentikan lajunya
Tak mampu kita berlari mendahuluinya
Tertinggal bila tak segera menaikinya
Tapi jangan kau pergi menjauhinya, Kawan
Meski kereta kita sekarang tak seperti kereta kita dahulu
Pada stasiun abu-abu
Karena kita akan bertatap kembali pada akhir segala kereta berhenti

Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Jika kau merasa aku meninggalkanmu
Maafkan aku
Maafkan aku
Maafkan aku…

:: Bogor, 11 November 2008 ::

poem-9

Kadang berderap-derap
Kadang melangkah senyap
Suatu saat membuncah semangat
Berucap dan melepas senyum sesaat
Kemudian kembali sepi dan sendiri
Ia ciptakan wacana dalam setiap fikir
Namun kembali sepi dan sendiri
Ia putuskan untuk nikmati setiap detiknya
Tapi tetap sepi dan sendiri
Ia tahu ia punya Tuhan dalam hati
Dalam setiap aliran darahnya
Tapi ia tidak tahu
Bolehkah ia berharap pada Sang Pembolak-balik hati
Agar kirimkan seseorang untuk menemani
Hingga tak menjadi sepi dan sendiri

:: Bogor, 16 Februari 2009 ::

poem-8

Bukankah Ia ciptakan angin untuk jadikan gelombang

Timbulkan arus agar tak tergenang

Semburatkan cahaya agar benderang

Bukankah Ia telah pastikan detak dalam dinding jiwa

Nafas untuk setiap hela

Air mata sebab sesak yang mendesak

Lantas mengapa kau ragu

Bahwa tak ada lagi mampu

Kendalikan gemuruh yang mengusik langkahmu

Padahal Ia tak pernah lelap

Meski kau lelah meratap

:: Bogor, 21 Desember 2008 ::

poem-7

Alihkan harapku ini, Rabbii…
Bila belum saatnya waktu untuk Kau beri
Atau aku harus tetap kirimkan
Agar doaku bertarung dengan takdir-Mu
Ampuni diriku, Rabbii…
Yang tidak mampu memilah solusi
Untuk merampungkan masalahku
Izinkan aku, Rabbii…
Semakin dekat dengan-Mu
Dalam kesendirianku

:: Bogor, 17 Februari 2009 ::

poem-6

Bersujud debu dalam kelembaban malam

Melirik purnama dengan dzikir panjangnya

Dalam pada apa ia dapat berucap

Bilamana sunyi menjadi raja

Membungkam sayup dan menjadikannya papa

Biar angin menerbangkan dirinya

Biar hujan menghempaskannya

Dia hanya ingin bercengkrama dengan kesadarannya

Akan kerapuhan diri

Akan kelemahan hati

Pada sujud panjangnya

:: Bogor, 14 Januari 2008 ::

poem-5

Kau bilang ini bukan mata

Melainkan jendela

Mengizinkanku melihat segala

Melaluinya

Kau bilang ini bukan tangan

Melainkan PLTA

Memberi jiwa untuk negerimu

Mengalirkan semangat untuk saudaramu

Kau bilang ini bukan hati

Melainkan samudera

Maka persialakan aku untuk menyelami kedalamannya

Mengagumi keelokannya

Membawa sedikit kekayaannya

Kau bilang kau bukan dewa

Melainkan hamba

Miliki cela

Teteskan air mata

Tapi izinkan aku melontar kata

Matahari ini milikmu juga

:: Bogor, 23 November 2007 ::

poem-4

Kita pernah bersama pada suatu masa

Mengatasnamakan diri sebagai perjuangan

Mengatasnamakan diri sebagai cinta

Kita pernah bersama pada suatu masa

Saat harumnya nektar memenuhi hexagonal

Saat manisnya madu mengaliri sarang sang lebah

Kita pernah bersama pada suatu masa

Terkadang berharap segera menuju akhir

Terkadang menangis sendu menginginkan awal

Kita bilang kita tak punya apa-apa

Kita hanya punya Tuhan di dalam dada

Hanya itu yang kita punya

Satu ditambah satu tak selalu menjadi dua

Alfabet pun kita miliki lebih dari yang ada

Hitam putihmu menjadi kelabu

Dengan tawa dan haru biru

Kita pernah bersama pada suatu masa

Dan akan tetap bersama

Dalam asa

Dalam cerita

Kita punya segala

:: Bogor, 23 November 2007 ::

dedicated to: Pasukan La Brangkat BEM TPB IPB 43 (Salam cinta atas nama perjuangan..Salam perjuangan atas nama cinta)

poem-3

Aku ingin mencintainya setelah mencintai-Mu

Agar dekapku padanya tak melukai-Mu

Agar sandaranku padanya tak melepaskan-Mu

Agar kebersamaanku dengannya tak merampas hak-Mu

Agar Kau tersenyum saat kami tersenyum

Agar Kau mendelik saat kami membalik

Maka jauh sebelum aku mencintainya

Aku akan mencintai-Mu

Dalam penantianku

Sampai terlabuh cintaku

Tanpa mengkhianati-Mu

:: Bogor, 7 November 2008 ::

« Older entries